HENDRA TANOEMIHARDJA"S area of contemplation
To write down everything just owned by human to aware our existence, transcendent our thought and therefore to differentiate us with another creatures, included creatures as angels and demons. And our Father made us inferior only to Himself.
AREA OF CONTEMPLATION WITH AWARENESS THAT GOD ALWAYS LOVE AND NEVER ABANDON US.
Lorem ipsum dolor sit dicatum animum explorant plena dilectione Dei notitia , et non derelinquas nos semper.
Tuesday, April 26, 2011
Wednesday, April 20, 2011
Saturday, April 16, 2011
Friday, April 15, 2011
Thursday, April 14, 2011
MEMORY TO REMEMBER
The LORD is my shepherd; I shall not want.
He maketh me to lie down in green pastures:
he leadeth me beside the still waters.
Yea, though I walk through the valley of the shadow of death,
I will fear no evil: for thou art with me;
thy rod and thy staff they comfort me.
Thou preparest a table before me in the presence of mine enemies:
thou anointest my head with oil; my cup runneth over.
Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life:
and I will dwell in the Home of the LORD for ever.
Tuesday, April 12, 2011
ON THE 80TH DAY AFTER DEPARTED 28 DEC 2011 2011

"suffering has a great value in our lives, as it is only through suffering, we can learn to love others. Stating that suffering is the inner side of love, the Son of God became human and shared fully in our life and our pain. In fact, He chose to redeem the world from sin by not only suffering but even by dying on the Cross. Only the person who has suffered can really understand the suffering of others " (Pope Benedict XVI)
Ketika mengalami masa sulit dimana kepahitan perasaan ditinggalkan seorang isteri yang mengalami hidup bersama selama 36 tahun kurang 2,5 bulan dan telah dikenal sejak 42 tahun, sulit saya dapat menggambarkannya dengan kata-kata. Mengenangnya hampir setiap hari dengan perasaan kepedihan dan kegetiran , terutama sejak sesudah mengetahui bagaimana sakit yang diderita dan dirasakannya, saat penderitaannya selama 20 hari terakhir di rumah sakit dan saat - saat sekarang yang sudah berlangsung selama lima bulan. Perasaan dan hati yang keras benar - benar telah terhancurkan. Dari puluhan tahun yang tidak pernah meneteskan air mata kecuali hanya terharu, menjadi seorang cengeng yang hampir setiap hari mencuci mata dengan bilasan air, karena mata yang lengket dari air mata.
Kucari pengatasan bagaimana semua perasaan dengan melakukan apa yang menurutku bisa menghilangkan beban perasaan ini, kutulis apa saja dalam sacial net-working, dan blogku yang telah kudiamkan dan tak terisi lagi dan terlantar sejak mengetahui Yoreta sakit. Kubuat narasi , poem atau essay sekehendak hatiku. Meski karena menulis segala sesuatu, menulis kritikan terhadap keadaan dan situasi sekitar; mungkin telah membuat kurang nyamannya orang - orang tertentu sampai ada yang mau membawa karena apa yang telah kutulis ini ke polisi, ada lagi yang lainnya menyarankan aku dibawa ke psikiater dan perlu konsultasi. Namun ada juga yang menyarankan menangislah sepuas hati, menulislah segalanya, atau dekapan simpati sebagai sahabat, memberikan cium pipi kanan kiri, menepuk bahu tanpa kata, sampai mensupport via social net work semuanya lebih menghibur daripada saran yang rasanya kurang pas kalau boleh dikatakan agak menyakitkan, namun sebagaimana biasa aku tak perduli dan tidak dendam. Bahkan komentar dan suport dalam social network lebih banyak menghibur. Lucunya juga simpati terhadap apa yang kualami berasal dari banyak orang yang tidak pernah kutemui hanya pertemanan via social net - work, termasuk seorang pastor yang studi di Itali; tidak sedikitpun dari para gembala yang kukenal dan bahwan pernah kuceritakan semasa Yoreta masih hidup. Yang pertama cerita tentang orang lain yang sakit, yang kedua main-main dengan bandul rosario yang konon diperoleh dari tanah suci berlagak seperti pastor Looqman MSC almarhum, dan yang ketiga tidak kuceritakan. Kalau kuceritakan aku benar-benar keledai yang terperosok sampai tiga kali. Namun dalam setiap kesempatan ada ekaristi pastor tamu lainnya, baik yang yoreta dan aku sendiri mengenalnya aku selalu menemui sesudah misa, dan mohon doa dan berkat orang sakit buat Yoreta. Disitu pula aku bisa mengerti bagaimana pribadi-pribadi mereka dengan sikap dan response para "gembala" tersebut. Termasuk mereka yang konon punya karunia penyembuhanYang kukenal disini sekedar ucapan belasungkawa atau condolences . Kucari buku-buku yang relevant dan dapat membantu bagaimana mengatasi perasaan kehilangan ini dengan buku - buku di Gramedia, Borders, Kinokuniya, sampai Amazon.com.
Akhirnya dari sebuah CD "about tomorrow", yang berisi comfort songs and words, kiriman seorang anak muda yang kukenal puluhan tahun lalu dan sekarang tinggal di Montana, bahwa dengan to write down everything adalah suatu pemulihan ke hari esok yang lebih baik untuk self realize dan menuju self release. Hal menulis ternyata adalah suatu yang positif. Bila teman yang menyarankan konsultasi psikiatri karena hal "menulis", barangjkali pengaruh budaya kita yang meski kebanyakan tidak sampai illiterate namun memang disini masyarakat kita adalah masyarakat yang rendah kebiasaan baca atau reading habit-nya, apalagi menulis, kecuali mungkin charting via BB (konon pengguna BB di Indo terbesar didunia), sesuatu perkembangan yang luar biasa di Indonesia. Hampir sebulan dalam pelarianku ke Singapura-pun kulihat bahwa pemakai BB disanapun tidak seperti disini. Smart phone dan I-phone kelihatannya lebih banyak digunakan baik di MRT, mal, maupun library. Selama dalam pelarian perasaan ini kunapak tilas tempat-tempat yang pernah kudatangi bersama dengan Yoreta, kadang kusengaja berjalan kaki hampir seharian. Kucari selingan sebagai refreshment, dan agak berhasil meski tidak signifikant mengurangi. Disana akau dapat tidur secara normal, dibandingkan disini yang sering tertidur menjelang azan jam 4 pagi. Kuikuti bible class yang menarik disana sebanyak 2 sesi dari program 3 sesi karena yang ketiga ditunda sehubungan dengan pastornya berangkat ke Vatican untuk beatifikasi John Paul II. Hampir kuiikuti suatu workshop "beginning experience" week end yang pendirinya seorang suster biarawati untuk mereka yang heartache karena ditinggalkan suami/isteri/divorce/single parent, dsb. Ketika kulihat dalam websitenya, ada semacam ketakutan atau boleh jadi suatu paranoia bahwa disitu juga ajang untuk pertemanan atau mencari pasangan. Seperti yang pernah kutulis pada tulisan lalu, kucoba mempulai perjalanan hidupku tanpa pasangan, yang memang adalah soul mate yang dianugerakan Tuhan kepadaku untuk selama perjalanan hidup perkawinan membuat pribadi menjadi lebih baik, dan juga sebenarnya membentuk kepribadian dan juga secara bersama mengarungi kehidupan spiritual. Dengan bertambahnya umur diusiaku yang menjelang 63, akan kucoba hidup sesuai nasihat dan anjuran para sahabat, buku-buku spiritual dan self healing menjalani perjalanan hidup terutama dalam perjalanan hidup spiritual yang lebih baik. Dihancurkan dan mengalami suatu mystical experience sebagaimana banyak cerita bahwa barangkali juga aku mendapat pertolongan Tuhan dalam meningkatkan iman, harapan dan kasih terhadap sesama.Hanya ddengan penderitaan yang kita alami kita lebih dapat menghayati peenderitaan orang lain dan baerangkali juga lebih mengasihi sesama.
Berkat dari Tuhan dan puji syukur kepada Bapa yang maha Baik, bahwa selama keabnormalan keadaan ini dimana memang rohani dan soul yang sakit, aku diberi kesehatan yang baik meski berat badan telah turun sepuluh percent aku merasa physik yang sehat, kurang tidur namun tidak capai atau fatique, tidak pernah sakit atau flu, tidak merasa kelaparan meski kurang makan. Seorang teman yang mempunyai expertise dalam meditasi menguatkan aku untuk mengembangkan bahwa ini semua adalah bimbingan Tuhan untuk kearah spiritual yang lebih baik. Akankah terjadi. Apakah aku dengan dihancurkan akan mengalami suatu mystical experience, dengan beban perasaan kepedihan yang tercampur aduk dengan perasaan frustrasi, marah, guilty feeling, perasaan berdosa, penyesalan ini membuat keadaan rohaniku yang sakit kearah suatu perbaikan , suatu kesehatan mental dimana rohani juga dibawa kepada pengharapan dan kasih Tuhan yang begitu besar meski kita kadang kita tidak mengerti kehendaknya, suatu spirual maturity dalam perjalanan hidup yang fana ini. Dimana emosi dan perasaan dihancurkan untuk sesuatu yang lebih baik dalam kehidupan spiritual. Karena dan melalui penderitaan, budi dan iman mencari sesuatu yang bersifat lebih tinggi dan dapat menemukan rasa damai, pengendalian diri, dan dapat berbuat sesuatu yang lebih untuk orang lain. Hanya kuingin kusadari bahwa Tuhan memanggil kita secara personal karena Dia mengenal kita sebelum kita dilahirkan, sebelum kita dibentuk dalam rahim ibu, dimana rambut kepala kita juga terhitung, dan nama kita tertulis dalam telapak jariNya. Whenever we don't know what to do, He will make a way.
"Man is not the lord of beings. Man is the shepherd of Being. Man loses nothing in this "less"; rather, he gains in that he attains the truth of Being. He gains the essential poverty of the shepherd, whose dignity consists in being called by Being itself into the preservation of Being's truth." (Martin Heidedegger in Letter on Humanism, 1964)
Heidegger begins question: ''Why is there anything rather than nothing? He speaks of three moods that raise this great question. They are three metaphysical moods, three moods that reveal not just the feelings of the individual but also the meanings of being. And these three are the three metaphysical moods that give rise to the three philosophies of life that we find in Ecclesiastes, Job, and Song of Songs. Heidegger says,
"Why is there anything rather than nothing?"...
Many men never encounter this question, if by encounter we mean not merely to hear and read about it as an interrogative formulation but to ask the question, that is, to bring it about, to raise it, to feel its inevitability.
And yet each of us is grazed at least once, perhaps more than once, by the hidden power of this question, even if he is not aware of what is happening to him. The question looms in moments of great despair, when things tend to lose all their weight and all meaning becomes obscured. Perhaps it will strike but once like a muffled bell that rings into our life and gradually dies away. It is present in moments of rejoicing, when all the things around us are transfigured and seem to be there for the first time, as if it might be easier to think they arc not than to understand that they are and are as they are. The question is upon us in boredom, when we are equally removed from despair and joy, and everything about us seems so hopelessly commonplace that we no longer care whether anything is or is not--and with this the question "Why is there anything rather than nothing?" is evoked in a particular form.
But this question may be asked expressly, or, unrecognized as a question, it may merely pass through our lives like a brief gust of wind.
Despair is Job's mood. His suffering is not only bodily but also spiritual. What has he to look forward to except death? He has lost everything, even God--especially God, it seems.
(Three Metaphysical Moods by Peter Kreeft - Ignatius Press Books)
ON THE 150TH DAY AFTER DEPARTED

During the illness after diagnosed with Motor Neuron Disease by Prof Low, Head of Department Neurology from Singapore General Hospital and by Senior Neurologist Rahmani from National University Singapore, I with my children like to accept the verdict of death for Yoreta. On 12th of October 2009,Prof Low told that within forthcoming 6 months Yoreta will cripple /disable , will get problem in four limbs, speech and swollen; and then will die.There is no medication for the time being for vthis disease, Rilutec from Aventis Pharmaceutical just effective as blocking for temporary in 3 months and sshall be monitored by a neurologist because severe side effect will affect liver and kidney. Yoreta just used this drug (still in research) just for 1 month, can not afford the headache and migraine sensation during "medication".\In Singapore we traveled severe time, went to adoration chapel, join novena in Saturday at Upper Thompson/Novena Church, walking and exercise in the park near apt and visiting church every day if possible. I set up all the pictures during our visit and will update if found another pictures. Just want to remember, and in search of healing I shall write anything possible. God bless all of you.
kutelusuri jalan jalan yang dulu kita lalui
Esplanade drive datang dari City Hall
melalui Fullerton di Raffles Place
melewati jembatan Cavenagh tahun 2008
waktu tiga tahun lalu
dalam hujan dengan payung
di bulan januari yang hujan melulu
sama seperti akhir Januari sore ini
waktu begitu cepat berlalu tanpa permisi
sekarang ku jalan bersama anak-anak
dan seorang cucu yang celoteh terus
dulu Arcelia masih dalam kandungan
usia janin delapan bulan
dalam hujan yang serupa
menjelang sore kita berpisah
niatku naik mrt dari esplanade ke bras basah
namun karena waktu yang cukup
kurubah dengan berjalan menuju gereja
cathedral the good shepherd
atau boleh juga ke church of st. joseph
keduanya dekat bras basah mrt
dan satu gereja lagi kalau tak salah
gereja st peter and paul
juga ada chimes yang dulunya juga gereja
sekarang jadi restaurant mewah
kusengaja berjalan di jalan yang sepi
menelusuri jembatan esplanade drive
menyebrang dari nicolls highway
disamping lima building tinggi yang
sambung menyambung jadi city link
namun ku berjalan di trotoar
dalam sepi dan sendiri dan juga gerimis
melewati marina square
dan building lainnya
belok menuju bras basah
terakhir Juni lalu kita naik MRT disini
sesudah makan malam di Penang road
pada bulan Juni tujuh bulan lalu
kutelusuri bras basah dibawah naungan
veranda peninggalan kolonial sepanjang jalan
kulihat pasangan - pasangan bule tua
berjalan sambil membawa map penunjuk jalan
oh mereka begitu ceria dan bahagia
sedangkan engkau harus tiada
mnd tiga kata yang merubah segala
padahal mnd biasa pada ras kauskasia
dan yang tinggal di guam pacific
bukannya orang-orang asia sepertimu
namun Dia punya rencana
yang masih belum kuterima sepenuh hati
dan memang aku seolah tidak rela
dan terus menanggung kepedihan dan menangisimu
akhirnya aku sampai di victoria street
setelah terlewat jauh sekali
lebih dari sejam kuberjalan
kuberjalan dengan lunglai tanpa
kesadaran penuh seperti biasa
melewati Rafless, Carlton dan Chijmes
namun akhirnya aku belum terlambat
mengikuti misa di gereja tua tahun 1854an
cathedral tua yang kumuh
didepan rumah arch bishop Nicholas Cia
masih seperti dulu tiada kemegahan
tanpa AC tanpa wide screen
seperti gereja-gereja Jakarta
yang konon katanya niru Spore
(suatu kebohongan publik/umat)
dan dindingnya retak belum renovasi
sangat kontras dengan katedral jakarta
dan gereja-gereja KAJ yang mewah
dan selalu dengan AC dan direnovasi
make up yang physical bukan yang rohani
karena misa jam 6 sore belum mulai
ku menerima sakramen rekonsiliasi
dengan confession untuk berdamai
dengan sesama , dengan Sang Pencipta
dan dengan diriku sendiri
dan mohon pengampunan penuh
dari Bapa yang maha baik
dan mohon penguatan mengatasi perasaan
disolasi dan kepedihan berkepanjangan
alangkah menyejukkan sang pastor tua
memberi aku penitensi dan berkata
mintalah ampun pada Dia yang empunya hidup,
say sorry to Jesus
pastor tua minta aku mendoakan terus
dirimu yang sudah bahagia memandang
wajah Bapa yang baik dan sempurna
dalam keabadianmu ..............
selama misa kuingat engkau terus
terutama saat doa Bapa kami
saat tanganmu kugandeng dan
dengan bacaan Injil hari ini
sabda bahagia untuk yang miskin jiwa
dan juga spirit yang lemah seakan terus
mengalami gurun pasir tak bertepi
aku mohon dapat dikuatkan selalu
"Happy those who mourn
They shall be comforted"
oh Lord have mercy on Yoreta
have mercy on me , have mercy on us
(hougang, new town on the end of February 2011)
Monday, April 11, 2011
Sunday, April 10, 2011
A PRAY FOR GRANDMA
Saturday, April 9, 2011
ON THE 40TH DAY AFTER DEPARTED 15 NOV 2010

There are moments in life when you miss someone
so much that you just want to pick them from
your dreams and hug them for real!
When the door of happiness closes, another opens;
but often times we look so long at the
closed door that we don't see the one
which has been opened for us.
Don't go for looks; they can deceive.
Don't go for wealth; even that fades away.
Go for someone who makes you smile,
because it takes only a smile to
make a dark day seem bright.
Find the one that makes your heart smile.
Dream what you want to dream;
go where you want to go;
be what you want to be,
because you have only one life
and one chance to do all the things
you want to do.
May you have enough happiness to make you sweet,
enough trials to make you strong,
enough sorrow to keep you human, and
enough hope to make you happy.
The happiest of people don't necessarily
have the best of everything;
they just make the most of
everything that comes along their way.
The brightest future will always
be based on a forgotten past;
you can't go forward in life until
you let go of your past failures and heartaches.
When you were born, you were crying
and everyone around you was smiling.
Live your life so at the end,
you're the one who is smiling and everyone
around you is crying.
Tuesday, March 22, 2011
AT NOON on YANCHEP LAKE
green and blue so close
in between is an old tree
with broken trunk
and also dry
broken leafs
falling down
like the feeling
of sorrow and loose
is there still a hope and joy
from the greenest pasture
and the beauty of deepnest blue water
for the poor spirit and sick soul
(in mournful moment)
Tuesday, March 8, 2011
Thursday, February 24, 2011
MARINA BAY SAND
I'd just visited last month for this hotel and visited the casino across the hotel , took a while for playing roulette . When ceremonial opening the CEO from Las Vegas spoke that he will join for every land auction for expanding the area of hotel and casino . He needs up to 10 hectares more than just 1 hectare he posses now; and like to do business in Spore because the transparency of governor rules for its every centimeter and for the stable law there. Unfortunately mostly the guess come from Indonesia. Hopefully no suicide for the gamblers there inside the hotel as happened in The Resort and First World at Genting , due to loss much money in casino. Have a nice day.
For the year of 2010 visited by 10 million visitors , the succesfull program Visit Singapore , compare with Indonesian tourist just 7 million almost just visit Bali.
Tuesday, February 22, 2011
Monday, February 14, 2011
HE - by: Richard Mullen


He can turn the tides
And calm the angry sea.
He alone decides
Who writes a symphony.
He lights ev'ry star
That makes our darkness bright.
He keeps watch all through
Each long and lonely night.
He still finds the time
To hear a child's first prayer.
Saint or sinner call
And always find Him there.
Though it makes him sad
To see the way we live,
He'll always say, "I forgive."
He can grant a wish
Or make a dream come true.
He can paint the clouds
And turn the gray to blue.
He alone knows where
To find the rainbow's end.
He alone can see
What lies beyond the bend.
He can touch a tree
And turn the leaves to gold.
He knows every lie
That you and I have told.
Friday, October 15, 2010
KEAJAIBAN KASIH
To feel at ease after comforted and solaced by her grand daughter , now my beloved wife at home of Father, our Lord
the beauty of the world
for the beauty of eyes
for the beauty of ears
and beauty of the senses
the beauty of joy
the beauty of love
the agony of pain
the agony of suffering
the agony of pleasure
for the beauty of life
shall be through
the beauty of death?
the agony of pain
feeling to lose and sorrow
starvation of hope and faith
is a journey without end
Mungkin aku terlalu mengeksploitasi kesedihan sehingga setiap hari aku pasti mengenangmu dan aku menangis. Engkau tahu bahwa aku yang kau beri label tidak mempunyai perasaan, karena menurutmu sering tidak memperdulikan perasaan orang. Ternyata lemah. Aku yang merasa kuat dan engkau tahu bahwa aku tidak pernah menangis ( seingatku aku menangis waktu ibuku meninggal pada tahun 1987 ), ternyata mempunyai perasaan. Ternyata sekarang aku masih menangisimu setiap hari. Aku tidak ingin mengexplore kesedihan dengan kepergianmu, namun sekarang aku masih mencari nilai-nilai keajaiban dari kasih, dari iman dan dari harapan. Semoga aku dapat mengatasinya, meski aku sadar memerlukan banyak waktu, mungkin berhasil mungkin tidak namun aku akan berpasrah atas penyelenggaraan dan penyertaan Tuhan. Doakanlah juga, engkau dulu menyatakan selalu berdoa tiap hari untukku dan juga untuk anak-anak. Aku tidak menanyakan apakah engkau juga berdoa untuk dirimu sendiri, namun aku percaya Tuhan yang baik, mengetahui kebutuhan kita tanpa kita minta. Bersyukurlah selalu dan persembahkanlah dirimu untukNya, itu yang Ia minta.
Hampir 2 bulan sudah sejak kepergianmu, banyak teman dan juga anak-anak sangat mengkhawatirkan tentang diriku, mereka semua sangat baik. Syukurlah aku tetap sehat secara physik, meskipun setiap hari aku baru tidur menjelang pagi dan hanya tidur antara dua sampai empat jam saja. Mental juga rasanya aku tahan banting karena biasa menderita sejak usia muda. Kesulitan ekonomi zaman orde lama atau zaman Soekarno, masuk asrama yatim piatu hanya karena ingin bersekolah di kota Bandung dan waktu itu yang ada hanya asrama yatim piatu di kota tsb. Kemudian pindah ke asrama bruderan yang mewah di Jakarta yang dikelola bruder-bruder konggregasi Aloysius. Sekolahku tidak keruan, SD, SMP, dan SMA ku semuanya di dua sekolah. Sejak SMP aku merasa dewasa dan melakukan semua keputusan sendiri , daftas SMA dan masuk universitas dalam memilih jurusan, tanpa konsultasi dengan orang tua dan saudara. Aku memang keras kepala dan kadang maunya sendiri. Daftar 2 universitas utama di jakarta, keduanya diterima. Pilihanku sesuai jurusan yang kuminati ada di universitas yang bergengsi untuk jurusannya.Namun hanya karena harus membayar uang masuk yang sebenarnya jumlah tidak seberapa saat itu harus kutinggalkan dan masuk universitas negeri yang gratis. Kemudian pengalaman-pengalaman traumatis , seperti ditinggal kakak yang diatasku langsung pada usianya yang 26 tahun, empat tahun diatas usiaku oleh karena suatu kecelakaan di suatu pabrik yang sebenarnya tidak perlu terjadi hanya karena investor zaman permulaan orde baru yang ngirit menggunakan mesin dan blower dari Jerman Timur yang murah dan yang minim kwalitas dan mencelakakan banyak anak muda saat itu. Tujuh orangt anak muda, seorang insinyur muda dan 6 orang mekanik hancur terbakar tubuh mereka menjadi arang karena blower yang meledak di hari Sabtu tengah malam. Kejadian yang amat tragis terutama buat diriku saat itu. Lain sekali dengan perusahaan yang kupimpin, dimana investor/owner hanya menggunakan mesin-mesin berkwalitas prima dari Jerman Barat . Tuhan telah menentukan jalan hidupnya. Juga ditinggal ayahku pada usia yang relatip muda. Engkau tahu semuanya itu. Namun aku selalu besyukur akan apa yang Tuhan berikan. Datang ke Jakarta hanya dengan travelling bag berisi beberapa pasang pakaian saja pada usia 18 tahun. Daftar sekolah dan cari kost semuanya kulakukan sendiri, bertemu denganmu pertama kali kuingat pada pesta natal tahun pertama kuliahku. Mungkin yang sakit sekarang ini adalah rohani dan jiwaku, aku merasa imanku tidak ada arti, jangankan iman yang sebiji sesawi, masih jauh dari itu. Seolah aku masih belum rela engkau dipanggil Bapa, yang sebenarnya pasti Tuhan telah melakukan yang terbaik buat kamu. Melepaskan penderitaan dan sakitmu pada tubuh yang fana, dan telah memberimu damai dan kebahagiaan dalam keabadian. Bukankah dia men janjikan "Di rumah Bapaku banyak tempat tinggal ( Yohn 14 ). Aku pergi untuk menyediakan tempat bagimu".
Aku menulis lagi karena terharu sekali mendapat surat dari tante Yani di Redmond, yang jauhnya belasan ribu mile, lebih dari separuh dunia. Tante yang berumur 92 tahun dengan memori dan kekuatan physik dan mental yang prima. Pasti engkau mengingatnya karena ia adalah ibu dari sahabat keluarga. Kita menemuinya pada bulan Juli yang lalu di rumah sakit karena ia menderita sesak napas sepertimu dan perlu bantuan oxygen. Tiga bulan sebelum kepergianmu.
Isi tulisannya aku kutip lengkap sbb:
Nip Hendra,
Ini tante kirim permen coklat, makan kalu Hendra kesepian,
ini hanya tanda kasih dari tante. Ada kata hiburan buat Hendra hanya sederet saja
"Tante tidak bisa mengambil kesedihanmu,
karena itu tante hanya bisa menemanimu
dalam kesedihanmu, kuatkan imanmu".
Tante selalu dukung doa-doa untuk Hendra sekeluarga. Tulisan tante jelek sekali, maaf ya, moga-moga Hendra bisa baca mengerti. Salam hangat semua dari tante Yani (padahal menurutku tulisannya jauh lebih baik dari kebanyakan anak muda sekarang, dan isinya begitu firm dan tulus menghibur, very touching and comprehend). Aku benar benar merasa
terhibur namun sekaligus juga bersedih karena mengingatmu. Ada banyak rasa sympathy yang diberikan banyak orang kepadamu, tanda kasih dan persahabatan, ada 351 yang mencatatkan namanya di buku tamu. Kebanyakan adalah yang memang mengenalmu. Ada lebih dari 200 orang lebih menghantarmu ke peristirahatanmu yang indah. Ada banyak orang yang hadir pada peringatan 7 dan 40 hari peringatanmu di rumah. Semuanya datang dan bersimpati untukmu yang mempunyai banyak sahabat dari segala lapisan dan juga lapisan umur yang berbeda. Dari yang usia duapuluhan sampai yang sembilan puluhan. Luar biasa, keajaiban kasih dan berelasi. Mungkin engkau juga melihat, betapa seluruh halaman rumah duka saat itu dipenuhi karangan bunga. Selain yang hadir adalah banyak keluarga termasuk dari luar kota : Pati/Bulumanis, Kudus, Surabaya, Kediri, Bandung, Salatiga, Pemalang/Randudongkal, Purwokerto dan juga dari kampungku Pamanukan; semuanya memerlukan datang untuk menghormatimu. Teman - teman mu sejak menghantar anak - masa TK dan SD pergi sekolah , sesama mantan perawat, satu wilayah, satu paroki dan juga para teman mantan prodiakon banyak yang datang dan ikut menghantarmu ke peristirahatanmu yang abadi. Teman-teman termasuk teman-teman anakmu dan dari keluarga yang dari Zoetermeer, California, Arizona, New York, dan Sydney menyampaikan ikut berduka baik melalui telpon dan surat dan ada juga mengirim karangan bunga ; teman-teman anakmu yang juga mengenalmu dari Singapore, dan Perth juga khusus datang untukmu. Waktu pemakamanmu begitu banyak anak-anak hadir, kebanyakan dari keluarga tetapi aku lihat dari beberapa teman anak-anak kita membawa anaknya disertai susternya, sesuatu yang jarang terjadi saat pemakaman.Kau ingat tante Yasim yang tua dan sakitan itu yang dulu sering kaukunjungi, menelpon nyatakan belasungkawa. Ibu Sihombing dan ibu Sutikno yang tua dan jalan juga sudah susah menggunakan tongkat menengokmu di rumah duka. Betapa banyak sahabatmu, dan aku teringat juga akan sepasang anak muda yang mendapat kesulitan dari ketua lingkungannya untuk mendapat surat pengantar perkawinan karena dianggap tidak aktif di lingkungannya, kau ajak menjadi anggota koor. Ketika seorang warga lingkungan yang hendak mengawinkan anaknya mendapat informasi dari sekretariat paroki seolah ada tarif yang sekian nilainya , engkau yang langsung telpon untuk mempertanyakannya. Engkau pernah curhat kepada dokter gigimu pada bulan-bulan terakhirmu bahwa engkau merasa tidak berguna dan bercerita sambil menangis . Tidak , engkau telah berbuat banyak untuik anak-anak dan keluarga, untuk orang lain yang kaukenal dan melakukannya semua dengan tulus. Engkau dulu bersama Roosye dan Hong sering menggunakan waktu sesudah urusan keluarga selesai untuk mengunjungi orang-orang tua dan sakit di wilayah kita, atau kadang mengantar mereka untuk berobat seperti ke pastor Somar, dsb. Di sekolah dulu bila pulang sekolah engkau selalu mengajak orang lain dan menghantarkannya kerumahnya meskipun masuk-masuk seperti ke gang Edi, yang bersangkutan rupanya sekarang telah melupakannya. Kalau ada kesempatan pulang dari gereja engkau selalu berusaha mengajak ibu- ibu tua dan menghantarkannya kerumahnya meski masuk gang. Dalam setiap kepanityaan engkau selalu terlibat dan selalu berurusan dengan seksi repot, konsumsi. Semua umat di wilayah seolah tahu, urusan konsumsi pasti Yoreta. Engkau bukannya tidak berguna, tetapi telah berbuat banyak dengan dan terhadap orang lain dan juga keluarga. Ada banyak hal lainnya yang tak dapat kuceritakan semuanya.
Juga ada hal lain yang sifatnya misconduct atau menyalahi kepatutan dan menjadi rumour terutama ibu - ibu, engkau bereaksi, padahal orang lain banyak yang tidak perduli. Mungkin ukuranmu lain dengan ukuran dari kebanyakan kita dalam menanggapi sesuatu kejadian.
Kau ingat , terakhir engkau banyak lupa juga juga terhadap temanmu yang lama tidak bertemu, juga dokter yang mengobatimu secara prana. Padahal dia adalah kenalanmu sebelum kita menikah dan juga menghadiri perkawinan kita. Anak muda yang kau ajak ikut koor tersebut kemudian minta kita menjadii saksi perkawinannya waktu sakramen. Betapa seringnya kita menjadi saksi perkawinan termasuk dari keluarga. Aku rasa lebih dari tujuh kali kita pernah menjadi saksi sakramen perkawinan. Engkau pernah kutanya dan banyak tidak mengingatnya lagi.
Oh ya, teringat sakramen aku merenung, bahwa Tuhan memberikan rahmat karunia melalui sakramen ini, aku rasakan semuanya dalam penderitaan-penderitaanmu. Penderitaanmu adalah penderitaanku, kepedihanmu adalah kepedihanku. Tuhan benar-benar memberikan pasangan jiwa, seorang soul mate seperti Tuhan memberikan Adam seorang Hawa, seperti Tuhan telah memberikan kita semua malaekat pelindung (bukan mengecilkan mereka yang tidak atau belum menikah karena sesuatu hal). Tidaklah salah kalau ada suatu phrase "swarga nunut naraka katut". Ada banyak bencana kalau karunia sakramen ini tidak kita hayati dan sadari, sebaliknya ada keselamatan disini, tanda suatu sakramen.
Bunga kemboja besar yang berwarna putih mungil telah bermekaran, engkau dulu mempertanyakan mana bunganya, sayang engkau tidak melihatnya. Demikian juga bunga ungu liar yang kautanam masih bermekaran. Bunga santan dan kemuning, nona makan sirih, dan melati , kemboja merah dan water lily, semuanya bermekaran tiap hari. Hanya cabai merah tidak berbuah lagi. Merana seolah tahu tuannya telah pergi. Dalam keabadian engkau pasti tahu, dalam keabadian engkau melihat semuanya, dan engkau pasti tersenyum, sedangkan aku masih melihat semuanya dengan kepedihan yang seolah tak berujung (in search of healing).
SUFFERING
Friday, April 30, 2010
Tuesday, February 23, 2010
Friday, July 24, 2009
Friday, July 10, 2009
Friday, January 30, 2009
THE DISCUSSION

The Discussion
Song painting in the Litang style illustrating the theme "confucianism, taoism and buddhism are one". Depicts taoist Lu Xiujing (left), official Tao Hongjing (right) and buddhist monk Huiyuan (center, founder of Pure Land) by the Tiger stream. The stream borders a zone infested by tigers that they just crossed without fear, engrossed as they were in their discussion. Realising what they just did, they laugh together, hence the name of the picture,
Three laughing men by the Tiger stream.
Teknologi Baru, Relasi Baru:
Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan (Pesan Bapa Suci Benediktus XVI untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke- 43,
24 Mei 2009)
Saudara dan Saudari Terkasih,
1. Mendahului Hari Komunikasi Sedunia yang akan datang, Saya ingin menyampaikan kepada anda beberapa permenungan mengenai tema yang dipilih untuk tahun ini yakni – Teknologi Baru, Relasi Baru: Memajukan Budaya Menghormati, Dialog dan Persahabatan. Sesungguhnya teknologi digital baru sedang membawa pergeseran yang hakiki terhadap perilaku-perilaku komunikasi juga terhadap ragam hubungan manusia, khususnya bagi kaum muda yang bertumbuh bersama teknologi baru dan telah merasakan dunia digital sebagai rumah sendiri. Mereka berusaha memahami dan memanfaatkan peluang yang diberikan olehnya, sesuatu yang bagi kita orang dewasa acap kali dirasakan cukup asing. Dalam pesan tahun ini, Saya menyadari mereka yang dikenal sebagai generasi digital, dan Saya ingin berbagi dengan mereka, khususnya tentang gagasan-gagasan menyangkut potensi ulung teknologi baru apabila dipergunakan untuk memajukan pemahaman dan rasa kesetiakawanan manusia. Teknologi baru itu sesungguhnya merupakan anugerah bagi umat manusia dan kita mesti sungguh-sungguh memberikan jaminan bahwa manfaat yang dimilikinya dipergunakan untuk melayani semua umat manusia secara pribadi dan komunitas, secara istimewa bagi mereka yang kurang beruntung dan disakiti.
2. Akses yang mudah terhadap telpon seluler dan komputer yang dikombinasikan dengan jangkauan dan penyebaran internet secara meluas telah menciptakan serba ragam sarana melaluinya, kata-kata dan gambar dapat disampaikan secara langsung ke wilayah-wilayah terjauh dan terpencil di dunia, sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh generasi-generasi sebelumnya. Kekuatan besar media baru ini telah digenggam oleh orang-orang muda dalam mengembangkan jalinan, komunikasi dan pengertian di antara individu maupun secara bersama. Mereka telah beralih kepada media baru sebagai sarana berkomunikasi dengan teman- teman , sarana untuk berjumpa dengan teman-teman baru, sararana untuk membangun paguyuban dan jejaringan, mencari informasi dan berita serta sarana berbagi gagasan dan pendapat. Banyak manfaat muncul dari budaya baru komunikasi ini, antara lain keluarga-keluarga masih tetap bisa berkomunikasi walau terpisah oleh jarak yang jauh, para mahasiswa dan peneliti mendapat peluang
yang lebih cepat dan mudah kepada dokumen, sumber-sumber rujukan dan penemuan-penemuan ilmiah sehingga mereka bisa bekerja secara bersama meski dari tempat yang berbeda. Lebih dari itu, kodrat interaktif yang dihadirkan oleh bebagai media baru mempermudah pembelajaran dan komunikasi dalam bentuk yang lebih dinamis sehingga memberikan sumbangsih bagi perkembangan sosial.
3. Betapapun kecepatan media baru ini begitu mengagumkan dalam artian daya guna dan rasa aman, namun popularitasnya bagi para pengguna tidak seharusnya membuat kita terheran-heran kalau ia menjawabi kerinduan mendasar umat manusia untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain.
Hasrat akan komunikasi dan persahabatan ini berakar pada kodrat kita yang paling dalam sebagai manusia dan tak boleh dimengerti sebagai jawaban terhadap berbagai inovasi teknis. Dalam terang amanat Kitab Suci, hasrat untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain, pertama-tama harus dimengerti sebagai ungkapan peran-serta kita akan kasih Allah yang komunikatif dan mempersatukan yang ingin menjadikan seluruh umat manusia sebagai suatu keluarga. Tatkala kita ingin mendekati orang lain, tatkala kita ingin mengetahui lebih banyak tentang mereka, dan membuat kita dikenal oleh mereka, kita justru sedang menjawabi panggilan Allah yakni panggilan yang terpatok dalam kodrat kita sebagai mahkluk yang diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, Allah komunikasi dan persekutuan.
4. Hasrat saling berhubungan dan naluri komunikasi yang sudah sedemikian melekat dalam kebudayaan masa kini sungguh dipahami sebagai ungkapan kecendrungan mendasar dan berkelanjutan manusia yang mutakhir untuk menjangkau keluar dan mengupayakan persekutuan dengan orang lain. Kenyataanya, tatkala kita membuka diri terhadap orang lain, kita sedang memenuhi hasrat kita yang terdalam dan menjadi lebih sungguh manusia. Pada dasarnya, mencintai adalah hal yang dikehendaki oleh Sang Pencipta. Dalam hal ini, Saya tidak berbicara tentang hubungan sekilas dan dangkal, tetapi tentang kasih yang sesungguhnya, yang menjadi inti ajaran moral Yesus: ”Kasihilah TuhanAllahmu dengan sepenuh hati, dengan seluruh jiwa raga, dengan seluruh akal budimu dan dengan seluruh kekuatanmu” dan ” kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri” (bdk. Mrk 12:30-31). Dalam terang pemahaman ini, merenungi makna teknologi baru amatlah penting agar kita tidak sekadar menaruh pehatian pada
kemampuannya yang tak dapat diragukan untuk mengembangkan kontak dengan orang lain, tetapi tertutama pada kwalitas isi yang disebarkan melaui media dimaksud. Saya ingin mendorong semua orang yang berkehendak baik yang sedang bergiat di lingkungan komunikasi digital masa kini untuk sungguh membaktikan diri dalam memajukan budaya menghomati, dialog dan persahabatan.
Oleh karena itu, mereka yang bergiat dalam pembuatan dan penyebaran isi media baru harus benar-benar menghormati martabat dan nilai pribadi manusia. Apabila teknologi baru dipergunakan untuk melayani kebaikan pribadi dan masyarakat, semua penggunanya akan mengelakkan tukar menukar kata dan gambar yang merendahkan umat manusia dan keintiman hubungan seksual atau yang mengeksploitasi orang lemah dan menderita.
5. Teknologi baru juga membuka jalan untuk dialog di antara orang-orang dari berbagai negara, budaya dan agama. Gelanggang digital baru yang disebut jagat maya, memungkinkan mereka untuk bertemu dan saling mengenal kebiasaan dan nilai-nilai mereka masing-masing. Perjumpaan-perjumpaan yang demikian kalau mau berhasil guna, menuntut bentuk pengungkapan bersama yang jujur dan tepat disertai sikap mendengar dengan penuh perhatian dan penuh penghargaan. Bila dialog bertujuan untuk memajukan pertumbuhan pengertian dan sikap setia kawan, ia harus berakar pada ikhtiar mencari kebenaran sejati dan bersama. Hidup bukanlah sekadar rangkaian peristiwa dan pengalaman: hidup adalah sebuah pencarian kebenaran, kebaikan dan keindahan. Untuk maksud inilah maka kita membuat pilihan; untuk maksud inilah maka kita meragakan kebebasan kita, dengan maksud inilah- yakni dalam kebenaran, dalam kebaikan dan dalam keindahan- kita menemukan kebahagiaan dan sukacita. Kita tidak boleh
membiarkan diri kita diperdaya oleh orang-orang yang semata-mata melihat kita sebagai konsumen dalam sebuah pasar yang dijejali dengan aneka ragam kemungkinan dimana pilihan itu sendiri berubah menjadi barang, kebaruan mengganti keindahan dan pengalaman sukyektif menggantikan kebenaran.
6. Gagasan tentang persahabatan telah mendapat pemahaman baru oleh munculnya kosa kata jaringan sosial digital dalam beberapa tahun belakangan ini. Gagasan ini merupakan suatu pencapaian yang paling luhur dalam budaya manusia. Dalam dan melalui persahabatan, kita bertumbuh dan berkembang sebagai manusia. Karena itu, persahabatan yang benar harus selalu dilihat sebagai kekayaan paling besar yang dapat dialami oleh pribadi manusia. Dengan ini, kita mestinya hati-hati memandang remeh gagasan atau pengalaman persahabatan. Sungguh menyedihkan apabila hasrat untuk mempertahankan dan mengembangkan persahabatan ’on-line’ mengorbankan kesempatan untuk keluarga, tetangga dan mereka yang kita jumpai dalam keseharian di tempat kerja, di tempat pendidikan dan tempat rekreasi. Apabila hasrat akan jalinan maya berubah menjadi obsesi, maka hasrat itu akan memarjinalkan pribadi dari interaksi sosial rial sekaligus menghambat pola istirahat, keheningan dan permenungan yang berguna bagi perkembangan kesehatan manusia.
7. Persahabatan adalah kekayaan terbesar manusia, tetapi nilai ulungnya bisa hilang apabila persahabatan itu dipahami sebagai tujuan itu sendiri. Sahabat harus saling mendukung dan saling memberi dorongan dalam mengembangkan bakat dan pembawaan mereka dan memanfaatkannya demi pelayanan bagi manusia. Dalam konteks ini, sungguh membanggakan bahwa jejaringan digital baru ini berihktiar memajukan kesetiakawanan umat manusia, damai dan keadilan, hak asasi manusia dan penghargaan terhadap hidup manusia serta kebaikan ciptaan. Jejaringan-jejaringan ini dapat mempermudah bentuk-bentuk kerjasama antar orang dari konteks geografis dan budaya yang berbeda dan membuat mereka mampu memperdalam kemanusiaan mereka dan rasa sepenanggungan demi kebaikan untuk semua. Karena itu kita mesti secara tegas menjamin bahwa dunia digital, dimana jejaringan serupa itu dapat dibangun, adalah dunia yang sungguh terbuka untuk semua orang. Sungguh akan menjadi tragedi masa depan bagi umat manusia, apabila sarana baru komunikasi yang memungkinkan orang berbagi pengetahuan dan informasi dengan cara yang lebih cepat dan berdayaguna, tidak terakses oleh mereka yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial, atau apabila ia cuma membantu memperbesar kesenjangan yang memisahkan orang miskin dari jejaringan baru itu yang justru dikembangkan bagi pelayanan sosialisasi manusia dan penyebaran informasi.
8. Saya bermaksud mensyimpulkan pesan ini dengan menyampaikan secara istimewa kepada orang muda katolik untuk mendorong mereka memberikan kesaksian iman dalam dunia digital. Saudara dan Saudari terkasih, saya meminta kepada anda sekalian untuk memperkenalkan nilai-nilai yang melandasi hidup anda ke dalam lingkungan budaya baru yakni budaya komunikasi dan informasi teknologi. Pada awal kehidupan gereja, para rasul bersama murid-muridnya mewartakan kabar gembira tentang Yesus kepada dunia orang Yunani dan Romawi. Sudah sejak masa itu, keberhasilan karya evangelisasi menuntut perhatian yang saksama dalam memahami kebudayaan dan kebiasaan bangsa-bangsa kafir sehingga kebenaran Injil dapat menjamah hati dan pikiran mereka. Demikian juga pada masa kini, karya pewartaan Kristus dalam dunia teknologi baru menuntut suatu pengetahuan yang mendalam tentang dunia kalau teknologi itu dipergunakan untuk melayani perutusan kita secara berdayaguna.
Kepada anda kalian, orang-orang muda, yang agaknya memiliki hubungan yang spontan terhadap sarana baru komunikasi, supaya bertanggungjawab terhadap evangelisasi ’benua digital’ ini. Pastikan untuk mewartakan Injil ke dalam dunia jaman sekarang dengan penuh semangat. Kamu mengetahui kecemasan dan harapan mereka, cita-cita dan kekecewaan mereka: hadiah terbesar yang dapat kalian berikan kepada mereka adalah berbagi dengan mereka ”kabar gembira” Allah yang telah menjadi manusia, yang menderita, wafar dan bangkit kembali untuk menyelamatkan semua orang. Hati umat manusia sedang haus akan sebuah dunia dimana kasih meraja, dimana anugerah dibagikan dan dimana jati diri ditemukan dalam bentuk persekutuan yang saling menghargai. Iman kita mampu menjawabi harapan-harapan itu: semoga kamu menjadi bentaranya! Ketahuilah, Bapa Suci memberkati anda dengan doa dan berkatnya.
Vatikan, 24 Januari 2009, pesta Santo Fransiskus dari Sales
Wednesday, January 28, 2009
THREE PHILOSOPHIES OF LIFE
by Peter Kreeft - Ignatius Press Books
"Man is not the lord of beings. Man is the shepherd of Being. Man loses nothing in this "less"; rather, he gains in that he attains the truth of Being. He gains the essential poverty of the shepherd, whose dignity consists in being called by Being itself into the preservation of Being's truth." (Martin Heidedegger in Letter on Humanism, 1964)
Heidegger begins question: ''Why is there anything rather than nothing?
He speaks of three moods that raise this great question. They are three metaphysical moods, three moods that reveal not just the feelings of the individual but also the meanings of being. And these three are the three metaphysical moods that give rise to the three philosophies of life that we find in Ecclesiastes, Job, and Song of Songs. Heidegger says,
"Why is there anything rather than nothing?"...Despair is Job's mood. His suffering is not only bodily but also spiritual. What has he to look forward to except death? He has lost everything, even God--especially God, it seems.God is certainly all powerful and all loving; one of the reasons there is suffering is that his people have violated his law or gone against his will, and he is bringing suffering upon them to force them to return to him and lead righteous lives. This kind of explanation works well so long as it is the wicked who suffer. But what about the wicked who prosper while the ones who try to do what is right before God are wracked with interminable pain and unbearable misery? How does one explain the suffering of the righteous? For that, another explanation needs to be used (for example, that all will be made right in the afterlife—a view not found in the prophets but in other biblical authors). And so it goes.
Many men never encounter this question, if by encounter we mean not merely to hear and read about it as an interrogative formulation but to ask the question, that is, to bring it about, to raise it, to feel its inevitability.
And yet each of us is grazed at least once, perhaps more than once, by the hidden power of this question, even if he is not aware of what is happening to him. The question looms in moments of great despair, when things tend to lose all their weight and all meaning becomes obscured. Perhaps it will strike but once like a muffled bell that rings into our life and gradually dies away. It is present in moments of rejoicing, when all the things around us are transfigured and seem to be there for the first time, as if it might be easier to think they arc not than to understand that they are and are as they are. The question is upon us in boredom, when we are equally removed from despair and joy, and everything about us seems so hopelessly commonplace that we no longer care whether anything is or is not--and with this the question "Why is there anything rather than nothing?" is evoked in a particular form.
But this question may be asked expressly, or, unrecognized as a question, it may merely pass through our lives like a brief gust of wind.
Joy is the mood of love, young love, new love, "falling in love". That is the wonder in Song of Songs: that the beloved should be; that life should be; that anything, now all lit by the new light of love, should be--as mysterious a glory as it was to job a mysterious burden.
Boredom is the mood of Ecciesiastes. It is a modern mood. Indeed, there is no word for it in any ancient language! In this mood, there is neither a reason to die, as in Job, nor a reason to live, as in Song of Songs. This is the deepest pit of all.
Saturday, January 10, 2009
PSIKIATRI AND ME , SEBUAH EXPLANASI
Psychology: the science of the mind
Psychology is the science of the mind. The human mind is the most complex machine on Earth. It is the source of all thought and behaviour.
How do psychologists study the mind?
But how can we study something as complex and mysterious as the mind? Even if we were to split open the skull of a willing volunteer and have a look inside, we would only see the gloopy grey matter of the brain. We cannot see someone thinking. Nor can we observe their emotions, or memories, or perceptions and dreams. So how do psychologists go about studying the mind?
In fact, psychologists adopt a similar approach to scientists in other fields. Nuclear physicists interested in the structure of atoms cannot observe protons, electrons and neutrons directly. Instead, they predict how these elements should behave and devise experiments to confirm or refute their expectations.
Human behaviour: the raw data of psychology
In a similar way, psychologists use human behaviour as a clue to the workings of the mind. Although we cannot observe the mind directly, everything we do, think, feel and say is determined by the functioning of the mind. So psychologists take human behaviour as the raw data for testing their theories about how the mind works.
Since the German psychologist Wilhelm Wundt (1832-1920) opened the first experimental psychology lab in Leipzig in 1879, we have learned an enormous amount about the relationship between brain, mind and behaviour.
Psychology and other disciplines
Psychology lies at the intersection of many other different disciplines, including biology, medicine, linguistics, philosophy, anthropology, sociology, and artificial intelligence (AI).
For example, neuropsychology is allied with biology, since the aim is to map different areas of the brain and explain how each underpins different brain functions like memory or language. Other branches of psychology are more closely connected with medicine. Health psychologists help people manage disease and pain. Similarly, clinical psychologists help alleviate the suffering caused by mental disorders.
Branches of psychology
Any attempt to explain why humans think and behave in the way that they do will inevitably be linked to one or another branch of psychology. The different disciplines of psychology are extremely wide-ranging. They include:
- Clinical psychology
- Cognitive psychology: memory
- Cognitive psychology: intelligence
- Developmental psychology
- Evolutionary psychology
- Forensic psychology
- Health psychology
- Neuropsychology
- Occupational psychology
- Social psychology
You can learn more about these disciplines by selecting from the list of links on the right hand side of the page.
What all these different approaches to psychology have in common is a desire to explain the behaviour of individuals based on the workings of the mind. And in every area, psychologists apply scientific methodology. They formulate theories, test hypotheses through observation and experiment, and analyse the findings with statistical techniques that help them identify important findings.
ruang dan waktu
alam dan pengalaman
manusia dengan segala aspeknya
perempuan dan seksualitasnya
lelaki dengan solemnitasnya
agama dan tradisi
segala realitas sosial
menjadi objek fenomenologi
dikaji ada dan mengadanya
dieksplorasi eksistensinya
dengan logika kesadaran
kesadaran yang menangkap realitas
bertemu dengan realitas yang menggejala
yang menampakkan diri pada kesadaran
diolah dengan pemikiran karunia Ilahi
menjadi filsafat yang ilmiah
menjadi suatu pengertian
jika aku melihat langitmu, buatan jarimu
bulan dan bintang - bintang yang kautempatkan
apakah anak manusia sehingga Engkau mengindahkannya
namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah
Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tanganMu (Mzm 8)
Seorang teman bersaran kepada teman lainnya agar mengusahakan saya dibawa ke seorang psikiater, oleh karena akhir-akhir ini sejak saya ditinggal isteri dengan penderitaannya yang cukup lama menurut pendapatnya saya menjadi lain. Yang dimaksud adalah sekarang ini saya menulis tentang segala sesuatu, baik yang menyangkut kepedihan itu sendiri maupun yang lainnya. Suatu pengalaman yang memedihkan memang telah membuat t segalanya menjadi tak menentu. saya pernah menulis MND , tiga buah kata yang merubah segalanya bagi kami berdua dan juga bagi anak-anak.
Saya berterima kasih kepada saran ini, masalahnya yang paling tahu tentang diri saya adalah diri saya sendiri. Dengan pendidikan psikologi zaman dulu, saya dididik selama 7 tahun (kurikulum rata-rata saat itu) disebuah universitas paling top di negeri ini dan merupakan center of excellence dengan pengajar-pengajar yang umumnya waktu itu adalah berasal dari pendidikan luar negeri, beberapa bergelar Doctor/Phd dengan literature fakultas yang cukup baik. Pada tahun-tahun terakhir bahkan kami untuk kasuistik harus ikut klas psikiatri selama 1 bulan, mengambil kasus-kasus yang variatif dalam kelainan kepribadian/gangguan kejiwaan yang berlangsung selama 3 bulan di rumah-rumah sakit jiwa di Jakarta , yaitu di RSCM, RSPAD, RSAL, dan Rumah Sakit Jiwa Grogol. Kami mempelajari tentang "manusia" rata-rata selama 7 tahun dengan segala subjek studi yang melatar belakangnya. Dari physiologi, anthropologi, sosiologi dan kriminologi, filsafat dan applied psychology lainnya. Dari psikologi eksperimen, pendidikan, klinis, sosial, development & anak, dan industri & organization. Bukan hanya dengan kuliah belaka namun menjalanai stasi/stage yartinya praktek langsung menerima klien dan research selama masing-masing 3 bulan di tiap bagiannya. Kami belajar filsafat hampir sepanjang studi kami lebih dari seminari-seminari berikan untuk para calon pastor. Dari filsafat Yunani , Materialismenya Marx dan Hegel, sampai Fenomenologinya Husserl , Sartre, Marleau Ponty sampai Eksistensialisme nya Soren Kierkegaard, Bergson, Martin Heidegger, dst ; dan diajar oleh para guru besar seperti alm pater Drijarkara, SJ dan alm Fuad Hassan. Sayangnya kami tidak diajar tentang Thomas Aquinas ,dan Karl Rahner dan juga Martin Buber yangt populer sesudah tahun 70-an ; yang selain membahas relasi antar manusia juga banyak mengupas relasi dengan Tuhan. Yang banyak didalami para pastor pinter dalam studi ke luar negerinya. Juga kami tidak belajar logo therapy seperti yang banyak dipelajari para pastor, namun seberapa banyak pastor yang mau melakukan counseling. Banyak diantara mereka lebih menikmati bercharting ria /up load menggunakan teknologi IT baru BB dengan para ibu, barangkali sesuatu yang hilang pada masa lalunya dibandingkan kami kaum awam. Psikiatri bagi dokter umum untuk spesialisasi paling lama 2 tahun. Pada tahun-tahun akhir masa studi , bahkan dalam case study saya biasa presentasi didepan para dokter dan psikiater. Kalau kami mempelajari manusia seutuhnya, para psikiater lebih melihat sebagai objek yang sakit, melakukan anamnese, menentukan diagnosa berdasar symptomatik perilaku penderita , kami para psikolog melakukan evaluasi psikologi berupa gambaran lengkap si individu, kemampuan-kemampuan nya, kehidupan emosi dandan dunia pikiran dengan segala latar belakangnya, dengan pemeriksaan psikologis yang komprehensif, sayangnya karena perkembangan dunia pendidikan dan juga karena aturan asosiasi profesi dan sistim pendidikan baru sejak tahun 1987 (?) pendidikan 4 tahun dengan lebih kurang 150 sks saja , para sarjana psikologi S1 sekarang bahkan tidak tahu dan juga tidak terlatih untuk pemeriksaan psikologis, harus ikut strata post graduate yang khusus untuk profesi. Kami para psikolog lulusan dulu bahkan merasa dan mengalami pendidikan panjang yang lebih dari post graduate dan juga lebih self-confident karena merasa mempunyai kompetensi dalam bidang psikologi, yang membedakan mungkin hanya peminatan dan skripsi yang harus teoritis dan empiris berdasarkan penelitian sendiri yang diambil, biasanya memerlukan waqktu paling cepat dalam 6 bulan dengan pertemuan intensif dengan sponsor/promotor.
Para psikiater meski juga dididik psiko-terapi, umumnya lebih melihat pasien sebagai orang sakit dengan gambaran prognose yang selalu tidak positif dan lebih suka memberi terapi seperti shock therapi/terapi kejut dengan listrik (saat itu), transquilizer/obat-obat penenang seperti diazepam, dsb. Kami para psikolog lebih terlatih menghadapi manusia dengan segala type kepribadian dan segala latar belakang yang membentuknya. Juga kami belajar psiko terapi dan counseling . masing-masing selama 2 semester dengan cukup intensif. Tulisan ini bukan untuk membandingkan antara psikolog dan psikiater, dan saya sendiri sekarang tidak terlalu mengamati apa yang terjadi di Indonesia. Lain disini mungkin lain dengan negara yang perkembangan psikologi dan psikiatrinya lebih maju.
Anyway, saya berterima kasih saran teman itu bila disampaikan dengan tulus. Banyak menulis dan juga membaca bukanlah indikasi yang menjadikan seseorang harus dibawa ke psikiater meski barangkali memang tidak lazim pada budaya masyarakat kita yang tidak menyukai tulis - baca, jika dibandingkan dengan menonton sinetron.
Sejauh isi tulisannya bukan seperti orang-orang schizophrenia, paranoia, atau lainnya. Meski kita juga mengetahui banyak para penulis adalah penderita penyakit jiwa seperti Ernst Hemmingway, dan banyak seniman terutama pelukis yang produktif dan kreatif adalah para penderita schizophrenia (in search of healing)
Grief and Loss Recovery
Jeanette Lockerbie, former editor of Psychology for Living magazine, tells about a minister friend whose wife died suddenly. With her husband, she had been very active in the church and was dearly loved by all the church members.
"I remember so well the church announcement of her funeral service: 'Come, and wear your brightest colors as we celebrate her homegoing,'" Lockerbie reported.
"Fine. This congregation was just following the teaching this minister had given them for a score of years. Everyone did the 'right' thing: the minister bore up admirably and 'celebrated' with his people the death of his life partner.
"Months later, I happened to be a guest in the home where this minister was also visiting. I scarcely recognized the ghost of a man he had become. His deep sorrow at the snatching away of his loved wife, suppressed in the interest of 'Christian' expectations of him, had worked its devastation in his life, both physically and emotionally."1
His "brave front" was nothing but a mask to hide his true feelings. Such masks are deadening.
Some time ago in an article in The Reader's Digest, John Kord Lagemann tells about another minister's reaction to death: "Recently the minister of our church had to carry tragic news to the parents of a twelve-year-old boy. Their son had drowned on a school outing. Later, the parents told me, 'The minister didn't preach or tell us to be brave. He broke into tears and wept with us. We will always love him for that.'"2
To hide behind a brave front in times of deep sorrow is to set one's self up for greater trauma ahead.
It is obvious to see which of the two ministers acted in the healthiest manner. Emotions are God given. In denying them we rob ourselves of spontaneity and seriously affect our emotional and physical health as well as damage our relationships. As John Lagemann put it, without emotions life would be like "playing a trombone with a stuck slide!"
In giving us emotions God also gave us ways to express them. He gave laughter to express joy, words to express anger, and tears to express sorrow. At the grave of his good friend, Lazarus, Jesus wept openly and unashamedly. "Weep with those who weep"3 is God's practical and healthy advice.
Grief can be caused not only by the loss of a loved one, but also by the loss of a job, a home, one's savings, a loved family pet, or anything of value. With any of these losses, the natural response is to grieve—which may include a mixture of reactions and emotions, all of which need to be worked through and resolved. Grieving is not a quick-fix simple event, but a process that can take weeks or many months depending on the significance of the loss. The following are stages that need to be worked through to bring resolution:
First, accept the reality of what has happened. At times of deep loss there is often denial. This couldn't have happened to me. It's just a bad dream, the mind reasons, and blots out the reality of the situation. As difficult as it may be, to resolve grief it is essential to accept whatever loss has occurred.
I know one man who was divorced 20 years ago. His former wife has long since remarried, but he is still living in a fantasy world with the dream that she is going to come back to him. As much as God (and the rest of us) hate divorce, and while miracles are possible, the likelihood of this woman coming back to this man is highly unrealistic. Until he accepts the finality of his situation, he'll stay stuck in the place where he has been for the past 20 years!
Second, realize that it is normal to hurt deeply at a time of loss. Give yourself permission to cry. It is one way of draining the pain of sorrow and loss. As long as our feelings are bottled up, we can't think clearly, we numb out, and get stuck—that is, we can't get on with our lives. Only after we discharge our painful emotions in healthy ways are we freed to pick up the pieces of our lives and return to meaningful living.
Some societies are much healthier when it comes to grieving. The Dani people in Irian Jaya, for example, says former missionary Elise Wight, weep and wail openly for several days when a loved one dies. We, too, need to weep out our pain. It is absolutely essential for healing. As Jesus taught, "Blessed are those who mourn, for they will be comforted."4 Only as we mourn our loss do we find comfort.
Third, accept feelings of loneliness, fear of being alone, and a sense of hopelessness as normal following the loss of a loved one. What is there left to live for? some feel. Forcing yourself to stay involved in former activities you enjoyed and going out and mixing with friends as soon as possible is very important. Equally important is to join a support group—with others who are also suffering loss. None of us can make it alone. We all need the support of loving, understanding friends, especially during times of grief and sadness. As the Bible teaches us, "Bear … one another's burdens, and so fulfill the law of Christ."5
Fourth, there may also be feelings of guilt, especially if there has been a suicide or some kind of preventable accident. Why didn't I do more for her/him? If only I'd been more understanding. It's my fault? All are thoughts that can haunt.
I talked with one man whose wife committed suicide six months earlier. This man felt he was to blame. Like all of us, I'm sure he could have done some things differently, but he wasn't responsible for his wife's action. Suicide was her choice. His guilt was false. He may need professional counseling to help him see and resolve this.
Fifth, another common emotion in grief is anger. We may feel angry at the person for leaving us, or at our boss for firing us, or at God for allowing our loss to happen. Anger can be difficult to admit, especially when directed at someone we loved very much—or at God! If there is anger, it is essential to acknowledge and express it in healthy ways. If it's repressed, full recovery isn't possible and can lead to depression and/or physical sickness.
Give yourself permission to cry. It is one way of draining the pain of sorrow and loss.
I read about one woman whose two sisters died tragically. She announced to the rest of the family, "There is no God. I don't believe in Him anymore." This woman was understandably angry at God, but instead of telling Him how she felt, she rejected Him. God doesn't get upset when we are angry at Him. He knows it anyhow and He understands. The healthy thing to do is to tell Him how we feel so we can resolve these feelings. Otherwise we will stuff them and become physically ill, depressed, bored, withdrawn, or take out our hurt on others.
In Psalm 109 David expressed his angry feelings to the Lord against those who were accusing him falsely. He prayed, "O God, whom I praise, do not remain silent, for wicked and deceitful men have opened their mouths against me; they have spoken against me with lying tongues. With words of hatred they surround me; they attack me without cause."6 And then he poured out the bitter feelings he held toward these people, after which he prayed, "Help me, O LORD my God; save me in accordance with your love."7 It can be very helpful for us to do the same.
Finally, give yourself time to heal. After accepting and dealing with your painful feelings, which may take weeks or even months, refuse to keep living in the past. Live for the present and the future. Do something that will help others.
Remember, it is God's will that we recover and use our pain as a means to promote growth. This can better equip us to minister to others who grieve. He wants to help us—and will—as we open our life to Christ and daily commit and trust ourselves to Him. As His Word says, "Casting all your care upon Him, for He cares for you."8
NOTE: For further help see the author’s book, How to Mend a Broken Heart, which can be purchased at: http://www.actscom.com/store.
(Daily Encounter)
1. Source unknown.
2. The Reader's Digest, August 1967.
3. Romans 12:15.
4. Matthew 5:7, (NIV).
5. Galatians 6:2, (KJV).
6. Psalm 109:2-3.
7. Psalm 109:26.
8. 1 Peter 5:7, (NKJV).
MAP I HAD BEEN THERE
MARY IMMACULATE, SHINING THE BEAUTY
Immaculada de Concepsiou - Pray with Mary for our sins . Ask God give mercy ang grace. Always honoured and praised every where
LITTLE HOUSE ON THE VALLEY , ARAULEN BOTANICAL GARDEN , WA
In summer the flowers , in the silence joyful and happiness
A SERENITY AND SANCTUARY
Invite to pray and contemplation
A PURE SPRING WATER INSIDE GROTTO
Has continued to flow since 1858 ; he that believeth on Me , out of his belly shall flow rivers of living water
POPE BEFORE THE GROTTO
Pray with Mary when Jubileum Year 150 years
THE MOTHER OF GOD
By her apparitions as Our Lady of Guadalupe to Saint Juan Diego
ALL OF THE SAINTS
When two holly people met
VIA DOLOROSA AT SANCTUARIES LPORDES
A lonesome road visited by million of pilgrims
FROM GABATHA TO GOLGOTHA
Jesu , Joy of man's desiring . Commemoration of Holy Friday in my parish "You are my disciples, if you keep obeying my teachings"
Mary Magdalene
By Gestilenchi
NOTRE DAME BASILICA - PARIS
Mother of Church Diocese of Paris
LIFE IS EXCITING AND CHALLENGING
Filled it with wonder
NOTRE DAME BASILICA - PARIS
Pictured from Seine river, started build in 11th century , Pope Alexander III laid the first stone
TIME IS ETERNITY
BASILIQUE IMMACULADE DE CONCEPCIOU - SANCTUARIES LOURDES
Built as Lady Mary's request to Bernarde
BERNADETTE SOUBIROUS 1844 - 1879 , 18 apparitions of a Lady , Mary
Canonised in 1933 , a miracle : her body incorruptible after death
MARY AT GROTTO WHERE MOTHER OF GOD MET BERNADETTE SOUBIROS in 1858
Eucharist celebration with Sacrament adoration continuously along the day for the glory of God.
CANDLE PROSESSION IN THE FRONT OF BASILIQUE NOTRE DAME SANCTUARY LOURDES
A very amazing and an undescribed feeling and emotion . Hail Mary for the glory of God
BLESSING - MAY OUR GOD GIVE BLESSING
And ye will not come to me, that ye might have life.







